![]() |
| Ajeg Tradisi: Wakil Bupati Gede Supriatna saat menghadiri Maha Sabha VII Pemeluk Siwa Muka Bulakan Dalem Tamblingan di Desa Gobleg. (Sumber: Prokom Buleleng) |
BANJAR – Penguatan ikatan kekeluargaan (pasemetonan) dan pelestarian nilai-nilai leluhur menjadi pesan sentral dalam pembukaan Maha Sabha VII Pemeluk Siwa Muka Bulakan Dalem Tamblingan. Acara ini berlangsung khidmat di Wantilan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Minggu (19/4).
Hadir membuka acara, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menegaskan bahwa Maha Sabha bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan momentum sakral untuk menyatukan visi dalam menjaga keberlanjutan adat dan budaya di tengah arus modernisasi.
"Maha Sabha ini adalah ruang konsolidasi. Kita ingin semeton Siwa Muka Bulakan tetap ajeg, solid, dan mampu menjadi penjaga nilai-nilai leluhur dalam kehidupan bermasyarakat," ujar Wabup Supriatna.
Fokus pada Program Nyata dan Regenerasi
Selain aspek spiritual, Wabup Supriatna juga menyoroti pentingnya profesionalisme organisasi. Ia berharap melalui pertemuan ini, tersusun program-program kerja yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh seluruh anggota keluarga besar (semeton).
Isu regenerasi juga menjadi perhatian serius. Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penerus secara administratif, tetapi benar-benar memahami akar tradisi agar tidak kehilangan identitas di masa depan.
"Nilai leluhur harus menjadi kompas agar kita tidak kehilangan arah. Saya berharap organisasi ini terus berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah melalui program-program yang dihasilkan," imbuhnya.
Kegiatan Maha Sabha VII ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan bakti terhadap leluhur masih menjadi fondasi kuat bagi masyarakat di Kabupaten Buleleng.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar